Gairah Mengatasi Kesulitan.

Posted: July 24, 2011 in catatan kuliah, Ilmu Budaya Dasar
Tags: , , ,

Menurut pembagian yang ada dalam mata kuliah Ilmu Budaya Dasar pokok bahasan dalam topik Gairah Mengatasi Kesulitan masih termasuk didalam pembahasan dalam topik utama, yaitu Manusia dan Harapan. Karena berdasarkan pembagian masalah yang ada di dalam mata kuliah Ilmu Budaya Dasar tersebut, maka tugas makalah ini mengulas tentang Pengertian Manusia dan Harapan beserta bagaimana seharusnya seseorang mempunyai suatu Gairah Mengatasi Kesulitan di dalam kehidupannya.

Manusia Dan Harapan.

A. Pengertian Harapan.
Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi. Arti harapan adalah sesuatu yang diinginkan dapat terjadi
Persamaan antara harapan dan cita-cita yaitu : Keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud.
Pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat.
Sebagai contoh, seorang Mahasiswa pada awal studinya tentu mempunyai harapan dapat lulus tepat waktu dan mempunyai nilai yang baik.
B. Sebab Manusia Mempunyai Harapan.
Pada dasarnya manusia mempunyai harapan dikarenakan oleh karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, sehingga manusia dapat mempunyai keinginan untuk melakukan sesuatu di masa yang akan datang. Secara garis besar penyebab manusia memiliki harapan dapat di bedakan menjadi dua hal yang utama,
1. Dorongan Kodrat.
Kodrat ialah sifat atau keadaan atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia diciptakan Tuhan.
Misalnya: menangis, bergembira, berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya.
Kodrat juga terdapat pada binatang dan tumbuh-tumbuhan karena binatang dan tumbuh-tumbuhan perlu makan dan minum.
Manusia dan kodratnya dapat mengetahui mana yang baik dan buruk.
Secara spesifik Abraham Maslow membagi penyebab harapan manusia menjadi,
* Kelangsungan Hidup.
Manusia memiliki tiga kebutuhan pokok yaitu:
Sandang, kebutuhan manusia dalam bentuk pakaian.
Pangan, kebutuhan sehari-hari seperti makan minum dan sebagainya.
Papan tempat untuk berlindung setiap harinya, contohnya rumah.
* Keamanan.
Setiap orang membutuhkan keamanan, karena rasa aman tidak harus diwujudkan dengan perlindungan. Rasa aman dapat diwujudkan oleh Agama karena itu merupakan benteng manusia dalam menjalani hidup.
* Hak Dan Kewajiban Mencintai Dan Dicintai.
Bila sudah pada saatnya manusia pasti ingin mengerti maksud dicintai dan mencintai, biasanya ini terjadi pada usia remaja.
* Status.
Status adalah harga diri yang dimiliki oleh setiap orang yang telah melekat pada dirinya.
* Perwujudan Cita- Cita.
Setiap manusia sesuai dengan keahliannya mewujudkan cita- citanya yang juga dapat mengembangkan bakat atau kepandaian yang dimilikinya.
2. Kebutuhan Hidup.
Sesuai dengan keberadaan manusia yang hidup secara berkelompok, maka kebutuhan hidup ini dapat dikelompokkan menjadi,
* Kebutuhan Jasmani.
Adalah kebutuhan yang kita butuhkan dalam keseharian kita.
Misalnya: makan, minum, pakaian, rumah dan lain-lain.
* Kebutuhan Rohani: Adalah kebutuhan batin manusia yang hanya dapat dipenuhi. Misalnya agama, ketenangan jiwa.
Gairah Mengatasi Kesulitan.
Apabila ada seseorang yang secara sengaja maupun tidak sengaja, melakukan kesalahan dalam melaksanakan apa yang sudah menjadi pengharapannya selama ini, maka bisa dikatakan seseorang tersebut mempunyai suatu kesulitan, baik itu secara jasmani maupun rohani, secara rohani biasanya di tandai dengan adanya rasa gelisah dan kesusahan, saya pribadi menyebutnya dengan si penjahat kembar, mengapa demikian? Karena jika rasa gelisah muncul, pasti rasa susah juga akan muncul, demikian juga sebaliknya, tergantung siapa yang akan muncul duluan.
Jika si penjahat kembar ini muncul, dan di biarkan secara terus menerus di dalam diri pribadi kita, maka tidak menutup kemungkinan secara perlahan – lahan jasmani kita juga akan ikut terganggu dengan adanya kedua hal tersebut, sehingga secara tidak sadar akan melakukan kegiatan, sering melamun, kurang tidur yang berakibat terkena penyakit insomnia, kurang makan, dan lain sebagainya. Yang mana dari kegiatan tadi sangat merugikan ragawi kita sendiri, dan dapat berakibat pada serangan berbagai penyakit, mulai dari ringan sampai kronis, bahkan berujung kematian.
Sebagai contoh dalam kehidupan nyata, ada sepasang remaja yang sedang berpacaran, kegiatan remaja ini sebenarnya wajar, karena ingin mendapatkan hak kewajiban untuk mencintai dan dicintai, dengan harapan dapat berjalan sebagai sepasang kekasih sampai menuju ke tingkat yang tertinggi, yaitu pernikahan. Tetapi di dalam perjalanan mereka, karena suatu alasan tertentu mereka harus berpisah, kejadian ini membuat salah satu dari mereka merasa putus harapan, dan sering merasa gelisah serta bersusah hati, yang secara tidak sadar melibatkan kesulitan yang begitu menggangu dalam keseharian, terlebih lagi jika yang mengalami kejadian ini merupakan seorang yang sudah cukup umur untuk menganjak ke jenjang pernikahan, sehingga dapat menjadikan sebagai suatu tekanan batin yang berat.
Dalam situasi yang demikian sulit, karena merasa sangat tertekan, seseorang tadi sebenarnya dapat membangkitkan gairah dalam mengatasi kesulitan yang dialaminya secara positif maupun secara negatif.
Kenyataan yang terjadi dalam masyarakat kemampuan untuk membangkitkan gairah mengatasi kesulitan pada contoh diatas lebih memiliki kecenderungan pada yang negatif, yaitu dengan cara membuang semua kesulitan dengan melampiaskan pada kegiatan atau hal – hal tertentu yang sifatnya merugikan diri sendiri. Sebagai contoh seseorang tadi melampiaskan semua permasalahannya dengan mengatakan kepada semua orang untuk selalu menunggu orang yang sudah meninggalkannya, dengan demikian sulit baginya untuk mendapatkan kembali pasangan yang lain, yang mungkin bisa lebih cocok dan mengerti tentang keadaan dirinya. Cara negatif yang lain dan lebih parah, tetapi sering terjadi belakangan ini adalah dengan jalan bunuh diri, yang tentu saja tindakan ini teramat sangat banyak yang menentang, baik itu dalam norma masyarakat maupun dalam nilai Agama.
Apabila seseorang yang mengalami kesulitan tadi dalam membangkitkan gairah untuk mengatasi kesulitan tersebut dengan sikap positif, yang dimaksud adalah tindakan atau sikap tersebut tidak menimbulkan kerusakan atau kerugian pada dirinya, maka seseorang tadi dapat melampiaskan pada kegiatan yang positif pula, contohnya dengan melatih akal dan pikiran yang dimilikinya, dengan cara berpikir secara rasional dan logis, bahwa sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak terlepas dari kehendak Tuhan, karena kita pada hakikatnya merupakan makhluk ciptaanNya. Bila seseorang tadi mampu untuk mengasah perasaan dan kemauannya maka bukan tidak mungkin rasa keakuan yang dimiliki pada awal mulanya akan hilang secara bertahap, dan terganti dengan cara pemikiran yang lebih jernih, untuk proses selanjutnya secara perlahan – lahan mungkin akan menyadari kalau yang namanya perpisahan itu wajar adanya, karena sudah merupakan hukum alam, di mana ada pertemuan disitu pula ada perpisahan, dimanapun dan kapanpun, sehingga dalam diri kita harus selalu untuk menerima kenyataan yang ada di dalam kehidupan sehari – hari.
Saat kesulitan yang dialami oleh seseorang tadi sedikit demi sedikit teratasi, maka tidak menutup kemungkinan bagi seseorang tersebut untuk melakukan berbagai macam kegiatan yang positif, sambil membuka diri untuk mencari orang lain sebagai pengganti yang telah pergi sebagai pengisi dari kekosongan hidupnya selama masa penantian.

Comments are closed.